Menulis, Merekam Rasa dan Asa.

15 tahun yang lampau saat mulai merantau,  nyantri di jawa timur. Saya mulai terbiasa menulis di diary.  Lima tahun bolak balik Melintasi laut jawa dengan kapal Pelni, selama tiga hari Pantoloan-Tanjung Perak. Nyambung naik bis ke Ponorogo selama kurang lebih 6 jam. Menyisakan kenangan indah yang terekam dalam tulisan.

Kehidupan di pondok dari berbagai macam rasa yang hadir serta asa yang melangit semuanya terpatri dalam diary hijau. Ya,  dari sekolah menengah pertama saya memang sudah suka warna hijau hehe (eh ini gak ada yang nanyain ya 😜). Tidak heran jika setiap berganti tahun, diary pun berubah bentuk alias beli baru. Semua diary itu saya bawa pulang dan sampai saat ini masih rapi berjejer di lemari buku buku sekolah saya di rumah orang tua. Eh tapi bukan hanya di diary sebenarnya saya aktif menulis. Karena saat di pondok saya juga aktif sebagai kontributor Mading pondok, pernah juga ikut lomba menulis karya ilmiah nasional yang diselenggarakan kementerian pemuda dan olahraga. Puisi puisi yang saya bawakan di beberapa lomba di pondok juga karya sendiri.. Eaaa.. Alhamdulillah 😁.

Hingga saat kembali  merantau dari Mesir, diary yang berjejer tadi saya bandingkan isinya dengan diary saya selama kuliah. (Jadi selama kuliah pun saya masih menulis diary,  dan masih dengan alasan yang sama,  merekam asa dan rasa). Lalu hasilnya?  Saya tergelak menertawakan diri sendiri. Jelas berbeda dong tulisan masa mondok dan masa kuliah. Rasa dan asa nya yang berbeda. Keadaan lingkungannya juga berbeda. Namun setelah tergelak saya pun bertekad, saya harus terus menulis. Sedikit ataupun banyak. Di lembaran kertas ataupun medsos. Saya harus menitipkan rasa dan asa yang hadir di setiap pergantian waktu. Bukan rasa yang menggalau, tapi rasa untuk menyemangati diri dan orang lain. Juga bukan sekedar asa yang menggantung tanpa target tapi yang mampu melangit dan membumi. Rasa dan asa dengan tujuan menebar kebaikan, manfaat dan keberkahan. Insya Allah.

Maka saat memasuki tangga kehidupan yang lebih tinggi,  Pernikahan. Menulis di diary membantu saya untuk tetap menjaga amanah dan kehormatan rumah tangga. Mengunci rapat aib yang ada. Bentuk terapi hati paling ampuh hehe. Biasanya lanjutan tulisan di medsos sebagai hasil dari muhasabah dan renungan diri. Sharing rasa dan asa sebagai perempuan yang baru saja menikah eeaa. Setelah menikah bahkan semakin banyak jenis buku yang berjejer. Tulisan keuangan, perdapuran, muhasabah mingguan, dll. Itu mah bukan tulisan mbok tapi catatan dan coretan πŸ˜‚.

Lalu sejak dianugerahi satu jiwa dalam rahim saya. Alhamdulillah. Saya semakin semangat menulis. Satu buku diary khusus rekam perjalanan mengandung hingga melahirkan ananda pun tercipta. Namun jangan tanya setelahnya bagaimana.  Haha gak ditanya pun tetap saya bocorin. Asli, rekam jejaknya hanya mampu tergambarkan lewat dokumentasi foto dan video serta satu dua baris kalimat. Perkembangan zaman alasanku, menyamarkan sebab sesungguhnya -tak sempat-😁. Yang emak emak pasti paham lah. Hoho.

Hingga, saat saya bergabung dengan komunitas Homeschooling Muslim Nusantara wilayah Sulawesi dan ad tawaran ikut di klub menulisnya. Bismillah kita hidupkan lagi Yuk semangat menulis di blognya. Apalagi sudah sekian lama saya ingin membuat portofolio anak alias laporan lengkap perkembangan ananda tercinta bukan hanya satu dua baris kalimat. Akhirnya biarlah blog yang sudah lama itu. Kita ganti dengan tema yang lebih keibuan ahaha. Dan disinilah saya, berusaha kembali merekam rasa dan asa menjalani peran sebagai pengemban amanah langit dan bumi. Ibu. 


(Tulisan ini diikutkan pada #tantanganclubmenulisHSMNSulawesi Part.1 )


Komentar

  1. Sebagai emak, memahami gimana menemukan waktu tepat menjejak kisah anak dalam bentuk tulisan 😁😁

    Btw, senangnya baca tulisan ini masyaa Allah.. Menulis diary tapi rasa baca karya buku. Bisa next projectnya menelurkan buku. In syaa Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Bismillaah.. Hayuuk bund.. Pernah juga punya impian nukis buku. Masalahnya ibu ibu, kadang kebanyakan ide dan planning, prakteknya yg gak tau kapan haha

      Hapus
  2. Love it.... Diary memang sangat membantu yaaa Bun, menjadi media menulis qt kala itu πŸ˜πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa bener bangeet bund..zaman belum mengenal medsos.. Diary is the best. Eh smpe skr jg kok πŸ˜€

      Hapus
  3. ditunggu tulisan2 cetar lainnya :) semoga istiqomah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillaaah.. Doanya kak may.. Harus istiqomahπŸ’ͺ. Kadang pas dah ad yg mau ditulis, ditunda sebentar jd ketunda beneran smpe lupa apa yg mo ditulis.
      Mhom sllu bimbingannya suhu 😍

      Hapus
  4. Balasan
    1. Bismillaaah.. Mohon bimbingannya sllu bund 😍

      Hapus

Posting Komentar