Pengemban Amanah Langit & Bumi (part I)
Bagi pasangan suami istri hadirnya sang buah hati adalah nikmat luar biasa. Anugerah yang selalu ditunggu-tunggu. Beberapa pasangan yang baru saja menikah ada yang berharap anugerah ini segera tiba namun ada juga yang berkeinginan menunda dengan berbagai alasan tersendiri.
Yang namanya anugerah berarti pemberian dari sang maha Pemberi, Dia yang berkehendak atas segala sesuatunya. Begitu pikir kami. Maka ketika kami memasuki gerbang pernikahan. Kami hanya berharap diberikan waktu terbaik untuk mengemban amanah langit dan bumi ini. Ya, memiliki anak, adalah mengemban amanah dari langit, amanah merawat dan mendidik jiwa yang terlahir secara fitrah itu. “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Bukhari-Muslim). Ia juga amanah bumi, sebab dengan hadirnya bertambahlah generasi umat Rasulullah ini, generasi yang seharusnya mampu menyampaikan dakwah yang telah diamanahkan kepada umatnya. Generasi yg seharusnya turut berpartisipasi menjadi umat trbaik di muka bumi. Maka mampukah kami mengemban amanah ini saat tiba kehadirannya. Semuanya tentu butuh bekal dan proses. Sehingga dalam penantian, kami berusaha memperbaiki diri, mempersiapkan segala sesuatunya agar menjadi pengemban amanah terbaik.
Setahun terlewati tanpa terasa. Kami nyatanya tetap berusaha. Karena kami yakin, jika kami semakin sehat lahir dan batin insya Allah benih yg akan hadir pun semakin siap secara lahir dan batin. Tetap bersabar. Waktu terbaik hanya Allah yang maha tau. Namun, tentu pikiran setiap orang berbeda-beda. Dan pertanyaan orang tua, sanak saudara, tetangga yang terlontarkan itulah yg lebih menguatkan doa. Meski terkadang di beberapa kesempatan mereka tidak menyadari bahwa perhatian yang seperti itu seakan menyakiti.
Pertanyaan kapan selesai kuliahnya, kapan menikah, kapan punya anak, kapan nambah anak dan kapan kapan lainnya sepertinya perlu kita pikirkan baik baik dahulu sebelum dilontarkan ke orang lain. Saya akhirnya mengambil pelajaran. Sabda Rasulullah terngiang "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.."., dan perkataan baik adalah perkataan yang sudah dipikirkan matang matang sebelum diucapkan, perlu atau tidak, bermanfaat atau tidak, menyakiti atau tidak.
20 April 2015, hasil test pack positif. Alhamdulillah. Perasaan bercampur aduk. Bismillah kami siap mengemban amanah ini. Terlebih saya, harus lebih siap. Lahir dan batin.
Dulu saat menikmati masa-masa terakhir mahasiswi s1, sempat terlintas dalam pikiran saya. Jika nanti suatu saat ada jiwa yang hadir di rahim, maka itu adalah tanggung jawabmu mau diarahkan kemana jiwa ini.
Maka saat ia sudah benar benar ada, bismillaah Robbi inni nadzartu laka maa fii bathnii muharroron fataqobbalminnii, Innaka antas sami’ul alim. Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku manjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Yang namanya anugerah berarti pemberian dari sang maha Pemberi, Dia yang berkehendak atas segala sesuatunya. Begitu pikir kami. Maka ketika kami memasuki gerbang pernikahan. Kami hanya berharap diberikan waktu terbaik untuk mengemban amanah langit dan bumi ini. Ya, memiliki anak, adalah mengemban amanah dari langit, amanah merawat dan mendidik jiwa yang terlahir secara fitrah itu. “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Bukhari-Muslim). Ia juga amanah bumi, sebab dengan hadirnya bertambahlah generasi umat Rasulullah ini, generasi yang seharusnya mampu menyampaikan dakwah yang telah diamanahkan kepada umatnya. Generasi yg seharusnya turut berpartisipasi menjadi umat trbaik di muka bumi. Maka mampukah kami mengemban amanah ini saat tiba kehadirannya. Semuanya tentu butuh bekal dan proses. Sehingga dalam penantian, kami berusaha memperbaiki diri, mempersiapkan segala sesuatunya agar menjadi pengemban amanah terbaik.
Setahun terlewati tanpa terasa. Kami nyatanya tetap berusaha. Karena kami yakin, jika kami semakin sehat lahir dan batin insya Allah benih yg akan hadir pun semakin siap secara lahir dan batin. Tetap bersabar. Waktu terbaik hanya Allah yang maha tau. Namun, tentu pikiran setiap orang berbeda-beda. Dan pertanyaan orang tua, sanak saudara, tetangga yang terlontarkan itulah yg lebih menguatkan doa. Meski terkadang di beberapa kesempatan mereka tidak menyadari bahwa perhatian yang seperti itu seakan menyakiti.
Pertanyaan kapan selesai kuliahnya, kapan menikah, kapan punya anak, kapan nambah anak dan kapan kapan lainnya sepertinya perlu kita pikirkan baik baik dahulu sebelum dilontarkan ke orang lain. Saya akhirnya mengambil pelajaran. Sabda Rasulullah terngiang "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.."., dan perkataan baik adalah perkataan yang sudah dipikirkan matang matang sebelum diucapkan, perlu atau tidak, bermanfaat atau tidak, menyakiti atau tidak.
20 April 2015, hasil test pack positif. Alhamdulillah. Perasaan bercampur aduk. Bismillah kami siap mengemban amanah ini. Terlebih saya, harus lebih siap. Lahir dan batin.
Dulu saat menikmati masa-masa terakhir mahasiswi s1, sempat terlintas dalam pikiran saya. Jika nanti suatu saat ada jiwa yang hadir di rahim, maka itu adalah tanggung jawabmu mau diarahkan kemana jiwa ini.
Maka saat ia sudah benar benar ada, bismillaah Robbi inni nadzartu laka maa fii bathnii muharroron fataqobbalminnii, Innaka antas sami’ul alim. Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku manjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Komentar
Posting Komentar